Wisata

Olahraga

Ekonomi

Latest Updates

Tampilkan postingan dengan label muktamar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muktamar. Tampilkan semua postingan

Tokoh Muhammadiyah KH Muqoddas Murtadlo Gantikan MS Kaban Jadi Ketua Majelis Syuro PBB

Kamis, September 26, 2019
Nyalla saat bersilaturahmi di kediaman KH. Muqoddas Murtadlo

MUHAMMADIYAH 4 PBB -- Tokoh Muhammadiyah, KH. Muqoddas Murtadlo, yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) menggantikan MS Kaban mejadi Ketua dalam Muktamar V PBB di Belitung baru-baru ini.

KH. Muqoddas Murtadlo merupakan sesepuh Muhammadiyah di Malang dan pernah memenangkan La Nyalla sebagai DPD di Jawa Timur.

Berikut arsip beritanya:

Rangkaian kunjungan Ketua Umum Kadin Jatim La Nyalla Mahmud Mattalitti dalam menjalin silaturahmi dengan berbagai pihak semakin aktif, salah satunya adalah dengan mengunjungi kediaman KH. Muqoddas Murtadlo, Wakil Ketua Majelis Syuro Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang (DPP PBB), di Malang, Sabtu, (13/10/18).

Kunjungan La Nyalla Calon DPD RI Dapil Jawa Timur ini, sangat terkesan, sebab ia disambut langsung oleh KH. Muqoddas Murtadlo.

“Bismillah Pak Nyalla, kalau sampean ikhlas Insya Allah jadi, dan harus jadi, kami bantu dengan kekuatan kami, semoga Pak Nyalla senantiasa diberi kelancaran segala urusannya, dan jika Allah berkehendak, maka Pak Nyalla bisa jadi Senator Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Daerah pemilihan Jawa Timur. Semua sudah menjadi ketentuan Allah,” kata KH. Muqoddas Murtadlo.

KH. Muqoddas Murtadlo mendukung penuh dan berharap, apabila terpilih menjadi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) 2019 nanti, La Nyalla bisa menjalankan tugas sebagai senator yang amanah dan bisa mengayomi serta mampu mensejahterakan masyarakat Jawa Timur.

La Nyalla mengaku pertemuan dengan KH. Muqoddas Murtadlo sangat menyejukkan hati dan sangat ramah menyambut kedatangannya.

“Saya berterima kasih kepada KH. Muqoddas Murtadlo yang telah mendukung penuh dan mendorong saya untuk maju menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD – RI), namun saya tetap ber ikhtiar dan memohon kepada Allah SWT,” kata La Nyalla.



Haedar Nashir Jelaskan Spirit Dakwah Muhammadiyah Adalah Memberi

Rabu, Agustus 07, 2019
Haedar Nashir



MUHAMMADIYAH 4 PBB -- Muhammadiyah tidak pernah lelah untuk beramal sholeh dalam rangka mencerdaskan umat dan bangsa.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Pengajian Daerah Muhammadiyah di Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Selasa (6/8/2019).

“Kita harus merawat kepercayaan dari semua pihak itu dengan cara meningkatkan peran dan kontribusi Muhammadiyah di bidang-bidang strategis. Semangat kita adalah semangat memberi, jika kita diberi maka akan dikembalikan kepada masyarakat dan negara," ujar Haedar Nashir.

Haedar juga menyoroti perkembangan dakwah di tanah air yang dibayangi gejala-gejala negatif.

“Dakwah kita tidak boleh dibarengi egoisme kelompok apalagi marah-marah. Jangan berteriak-teriak merasa paling berbuat, tapi mesti bekerja nyata. Perlu pembaruan dalam cara-cara kita berdakwah. Spirit Al Ma’un harus dilembagakan dalam praktek kehidupan. Ini ciri dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan,”jelas Haedar Nashir.

Di antara ratusan peserta, nampak hadir Ketua PWM Jawa Barat H. Syuhada, Sekretaris PWM Jawa Barat Jamjam Erawan, Bupati Kabupaten Bogor H. Ade Yasin, jajaran pengurus PDM Kabupaten Bogor, dan unsur Muspida Kabupaten Bogor.

Dalam kesempatan tersebut, Haedar didampingi bupati dan segenap pengurus PDM Kab. Bogor meresmikan pembangunan sejumlah amal usaha Muhammadiyah di wilayah Kabupaten Bogor, yakni Panti Asuhan Leuwiliang, SunMart Muhammadiyah Cilengsi, Rumah Sakit Islam Muhammadiyah Cilengsi, Pusat Tahfid Al Quran, TK Aisyiah Puraseda, SMK Muhammadiyah Nanggung, dan kampus universitas Muhammadiyah.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Kabupaten Bogor Ade Yasin mengucapkan terimakasih kepada segenap warga Muhammadiyah karena telah berperan penting dalam proses pembangunan di daerahnya.

“Muhammadiyah tidak terpisahkan sebagai kekuatan nasional, berjuang memajukan bangsa sejak lama bahkan sebelum Republik ini lahir. Kami hadir ingin bekerjasama dan berkolabarasi dengan lembaga-lembaga Muhammadiyah. Kami ingin rata-rata lama sekolah di daerah kita naik”, tutur bupati yang baru menjabat tujuh bulan ini. (sumber)

Trisakti Muhammadiyah, Jangan Gagap Menghadapi Zaman

Minggu, Agustus 04, 2019
ilustrasi


MUHAMMADIYAH 4 PBB -- MUHAMMADIYAH dibentuk oleh Kiai Dahlan untuk merespons keadaan sosial-masyarakat di dekade awal abad ke-20 yang sangat terpuruk.

Kondisi pendidikan sangat tidak layak, bahkan banyak masyarakat tidak mendapatkan hak pendidikannya akibat sikap diskriminasi VOC Belanda yang hanya memprioritaskan kaum ningrat yang memperoleh pendidikan.

Begitu pula kondisi perekonomian, sangat jauh dari kata cukup, ditambah dengan munculnya berbagai macam penyakit yang menimpa masyarakat akibat dari kekurangan nutrisi makanan yang bergizi.

Itulah zaman malaise; sebuah keadaan yang serba lesu dan sulit di berbagai bidang.
Berbasis data dan fakta di lapangan kala itu: bidang pendidikan, bidang kesehatan, dan bidang sosial yang tidak dipikirkan oleh banyak orang, maka Kiai Dahlan berinisiatif membuat organisasi kemasyarakatan bercorak sosial-keagamaan.

Organisasi tersebut dinamakan Muhammadiyah, didirikan pada 18 November 1912 di kota Yogyakarta. Sebagai gerakan sosial-keagamaan yang lahir dan tumbuh di perkotaan, ia memiliki corak keagamaan yang relatif berbeda dengan masyarakat yang berada di kultur perdesaan.

Yogyakarta ketika itu, berada di bawah hegemoni kultural keraton, dominasi politik Belanda kolonial dan dominasi ekonomi golongan Tionghoa.

Islam merupakakan fenomena pinggiran, berada di kampung-kampung, tidak berada di pusat kota (Kuntowijoyo, 1991: 267-268).

Akibat pola keagamaan yang dihadapi bercorak sinkretik-tradisional maka gagasannya lebih pada purifikasi Islam dari syirik, bid’ah, dan khurafat. Hal tersebut dilakukan sebagai cara mengubah pola pikir masyarakat agraris ke masyarakat industrial, atau masyarakat tradisional ke masyarakat modern.

Segala sesuatu yang dianggap menghambat kemajuan, supaya ditinggalkan karena kehidupan di perkotaan lebih dinamis, mobil, dan kosmopolit. Berbeda dengan kehidupan masyarakat tradisional (agraris) yang settled, menempat, tidak mobil, cenderung kolot.

Trisakti Muhammadiyah Awal
Pendidikan sebagai tugas utama yang mesti diemban oleh manusia sebagai khalifah di muka bumi menjadi sentral dari gerakan Muhammadiyah. Inilah Trisakti pertama.

“Menuntut ilmu itu dari sejak dalam kandungan hingga sampai ajal menjemput”, peribahasa Arab tentang pendidikan inilah yang menjadi rujukan. (selanjutnya)

Idul Adha 11 Agustus, Muhammadiyah: Insya Allah Sama

Minggu, Agustus 04, 2019
ilustrasi



MUHAMMADIYAH 4 PBB -- Kementerian Agama (Kemenag) dijadwalkan akan mengelar sidang isbat penentuan Idul Adha pada Kamis, 1 Agustus mendatang. Meski begitu, Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah telah mengeluarkan pernyataan penetapan Idul Adha 2019.

Melalui pernyataannya, PP Muhammadiyah menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Ahad, 11 Agustus 2019. Penetapan ini, berdasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Yunahar Ilyas mengatakan, penetapan ini berdasarkan hasil hisab hakiki wujudul hilal oleh Majelis Tarjih dan Tahdid PP Muhammadiyah. Dia meyakini, penetapan hari raya Idul Adha yang ditetapkan Muhammadiyah, kemungkinan besar sama dengan hasil sidang isbat Kementerian Agama.

“Insya Allah sama, karena sudah tiga derajat. Kalau Kemenag itu intinya, kalau sudah dua derajat masuk, ini kan sudah tiga derajat, insya Allah sama,” kata Yunahar Ilyas saat ditemui di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Selasa (30/7).

Jika pun berbeda, Yunahar mengaku tidak terlalu khawatir. Karena menurutnya, perbedaan penetapan Idul Adha bukanlah masalah besar. Sebaliknya, jika penetapan hari raya Idul Adha di Indonesia berbeda dengan penetapan Arab Saudi, maka kemungkinan menimbulkan masalah.

“Kalau Idul Adha itu yang kita khawatirkan bukan beda sesama kita, tapi beda dengan Saudi. Ya kalau beda dengan Saudi ya bisa terbelah lagi. Ada yang ikut Saudi, ada yang ikut Kemenag,” ujar Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia itu.

“Tapi karena ini sudah tiga derajat, maka insya Allah sama. Kalau repot itu kalau masih 0,1 atau 1 derajat, karena bisa beda kita dengan Saudi, tapi karena sudah tiga derajat, insya Allah sama,” sambung Yuhanar.

Sebelumnya, Pengurus Pusat Muhammadiyah melalui maklumat nomor 1/MLM/I.0/E/2019 tertanggal 16 Maret 2019, menyampaikan penentuan Hari Raya Idul Adha yang jatuh pada 11 Agustus 2019. Tak hanya menetapkan Idul Adha, dalam surat itu juga ditetapkan awal Ramadan 1440 H dan 1 Syawal 2019.

Di sisi lain, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, Muhammadiyah Amin mengatakan, Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat penentuan Idul Adha. Sidang tersebut rencananya akan dilaksanakan di Auditorium HM. Rasjidi, Kementrian Agama RI pada Kamis, 1 Agustus mendatang.

“Sidang isbat awal Zulhijjah akan dilaksanakan Kamis, 1 Agustus 2019 M di Auditorium HM. Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin Nomor 6, Jakarta," ujar Dirjen Bimas Islam, Muhammadiyah Amin dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (30/7).

Amin diperkirakan akan memimpin langsung pelaksanaan sidang, menggantikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang berhalangan hadir, karena tengah bertugas sebagai amirul hajj atau pemimpin haji di Arab Saudi.

Sidang isbat nantinya akan dihadiri sejumlah tokoh agama dari Majelis Ulama Indonesia, para Duta Besar Negara sahabat, Komisi VIII DPR, Mahkamah Agung, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Kemudian, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB), Planetarium, Pakar Falak dari Ormas-ormas Islam, Pejabat Eselon I dan II Kementerian Agama, serta Tim Hisab dan Rukyat Kementerian Agama (Kemenag). (sumber)

Muhammadiyah akan Bangun Pusat Kebudayaan Islam Tanah Air di Jogja

Minggu, Agustus 04, 2019
ilustrasi


MUHAMMADIYAH 4 PBB -- Sebagai salah satu organisasi Islam besar di tanah air, Muhammadiyah menginisiasi pembangunan pusat kebudayaan Islam di tanah air.

Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah menjelaskan, rencana pembangunan pusat kebudayaan Islam ini akan dilaksanakan dan dibangun di wilayah Imogiri Timur, Kabupaten Bantul dalam waktu dekat.

Pembangunan pusat kebudayaan islam ini dikatakan Haedar karena tanggung jawab Muhammadiyah sebagai organisasi islam untuk mengingatkan kembali perjuangan dan perjalanan islam di tanah air.

Sebab dikhawatirkan generasi muda akan lupa sejarah perkembangan Islam di Indonesia jika tak ada media yang tepat untuk mempelajarinya.

"Karena anak muda kalau tidak diajari sejarah maka mereka seperti kata Bung Karno (presiden pertama RI), mereka lupa sejarah. Padahal Islam punya peranan besar dalam perjuangan kemerdekaan bahkan pasca kemerdekaan yang bersinegeri dengan golongan lain," bebernya usai peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Wirausaha di Kebonagung, Minggir, Sleman, Minggu (28/7/2019).

Menurut Haedar, selain menjadi tempat belajar sejarah islam, adanya pusat kebudayaan Islam yang akan dibangun pada 2020 ini untuk memproyeksikan kondisi islam tanah air di masa yang akan datang.

Muhammadiyah ingin Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim ini memiliki masa depan yang lebih baik, dalam konteks bangsa yang unggul.

Sebab, kata Haedar, jika bangsa ini lengah maka bukan tak mungkin Indonesia akan kalah bersaing dengan negara lain.

Pihaknya juga berharap dengan adanya pusat kebudayaan Islam ini dapat menjadi inspirasi dan warisan Islam.

Menyoal koleksi, Haedar menjelaskan, sejumlah artefak dan manuskrip Islam akan ditempatkan di pusat kebudayaan Islam tersebut. (sumber)

Muktamar Ke-48 Diharapkan Perkuat Peran Muhammadiyah

Minggu, Agustus 04, 2019
ilustrasi


MUHAMMADIYAH 4 PBB -- Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Solo bakal memiliki makna yang sangat penting dalam memperkuat peran Muhammadiyah di tataran internasional.

Muktamar ini akan memastikan langkah-langkah strategis dalam rangka memperkuat internasionalisasi serta globalisasi Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Tanah Air.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah Dr H Tafsir MAg mengungkapkan, mengenai isu-isu utama yang akan dibawa ke muktamar ke-48 memang masih akan digodog oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Tetapi setelah soft launching muktamar ke-48 yang sudah dilaksanakan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), akan digelar serangkaian kegiatan pendukung.

Seperti seminar maupun workshop untuk ‘membakar’ isu-isu yang akan dibawa di arena muktamar, walaupun tetap mengacu kepada kerangka tema yang sudah dibangun.

“Isunya memang belum diangkat, tetapi tema muktamarnya kan sudah disepakati, Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta," ungkapnya kepada Republika, Jumat (2/8).

Tafsir menjelaskan, 'memajukan Indonesia' itu bagian dari komitmen Muhammadiyah yang tidak pernah berhenti--dari awal berdiri sampai dengan hari ini--dalam membangun paham Islam yang berkemajuan.

Karena Muhammadiyah itu didirikan untuk dua hal, yang pertama untuk memajukan umat Islam dan yang kedua untuk memajukan bangsa Indonesia.

Tetapi seiring dengan perkembangan era dan tuntutan global, Muhammadiyah ini tidak hanya akan berkutat di negeri sendiri, tetapi juga harus bisa berkhidmat bagi masyarakat yang lebih luas lagi.

Sehingga harus ada upaya-upaya untuk mewujudkan internasionalisasi Muhammadiyah agar kemaslahatannya bisa bermanfaat bagi umat yang lebih luas lagi.

Maka sekarang sudah terbentuk Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di berbagai negara di belahan dunia ini. “Inilah yang menjadi bagian dari tema mencerahkan semesta, melalui internasionalisasi maupun globalisasi peran Muhammadiyah,” katanya.

Oleh karena itu, kata Tafsir, infrastruktur untuk mendukung langkah-langkah internasionalisasi Muhammadiyah pun juga sudah dibangun dan disiapkan. Hal ini diwujudkan, antara lain dengan terus menyiapkan dan melakukan pembentukan cabang- cabang Muhammadiyah yang ada di seluruh dunia.

Selain itu, Muhammadiyah ini tidak cukup hanya dengan berdiri pada organisasinya saja, tetapi juga harus ada aksi nyata atau amal nyatanya kepada umat. Maka sekarang ini juga sudah mulai dibangun serta dirintis amal-amal usaha Muhammadiyah yang ada di berbagai negara tersebut.

Misalnya saja di Melbourne, Australia, Muhammadiyah juga sedang membangun lembaga pendidikan di negara tersebut, atau di negeri jiran Malaysia, juga akan berdiri bangunan universitas Muhammadiyah.

Demikian juga di Arab Saudi termasuk di negara-negara yang ada di Timur Tengah lainnya, juga akan dirintis lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah. Beberapa negara lainnya bahkan juga sudah ada yang mengajak Muhammadiyah untuk mendirikan rumah sakit, terutama dari negara-negara di Benua Afrika.

Semua itu merupakan bagian dari cita-cita Muhmmadiyah dalam mencerahkan semesta. "Jadi itu menjadi beberapa gambaran isu yang mengacu pada tema dari muktamar ke-48 nanti," ujarnya.

Tetapi, lanjut Tafsir, detilnya setelah soft launching, Muhammadiyah akan menggelar berbagai kegiatan roadshow, kajian ilmiah serta seminar dari kampus ke kampus.

Hal ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi persoalan apa pun, baik yang berskala regional maupun internasional, yang akan diangkat di Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Solo, nanti.

Pada pekan ini, sudah digelar Seminar Internasional yang menghadirkan narasumber dari berbagai negara, termasuk utusan-utusan pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dari berbagai negara,

“Dari seminar inilah nantinya isu-isu yang telah disepakati akan digodok, dipertajam, diformulasikan, dan disimpulkan untuk menjadi isu-isu yang akan dibahas di arena muktamar ke-48 tersebut,” katanya. (sumber)
 
Copyright © Keluarga Muhammadiyah Pendukung Partai Bulan Bintang. Designed by OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates